Tampilkan postingan dengan label sekedar dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekedar dongeng. Tampilkan semua postingan

Mimpi-mimpi itu

12 Juni 2013

mimpi itu datang lagi. tokohnya sama saja. seorang lelaki yang terlihat sangar dari luar tetapi sorot matanya memancarkan sinar kasih yang luar biasa tulus. perawakannya atletis dan penuh oleh gumpalan otot dengan definisi yang sangat jelas. seperti mantan preman yang telah insyaf dan menjadi guru ngaji.

tokoh lainnya adalah seorang wanita berbadan tinggi semampai, rambut panjang melebihi bahu. wajahnya cantik, agak oriental, senyumnya manis. kulit putih. bukan kuning langsat, tapi putih, seputih-putihnya orang indonesia. dilihat secara keseluruhan wanita ini seperti model profesional.

tokoh terakhir di mimpi-mimpi itu adalah seorang bocah lelaki. umurnya belum genap 4 tahun, tetapi badannya bongsor seperti sudah masuk sekolah dasar saja. anaknya lucu sekali, lincah dan cerdas. seperti layaknya anak seumurnya. banyak bertanya, dan barang apapun yang dia temukan bisa dia jadikan mainan.

kali ini settingannya di halaman rumah, si bocah sedang bermain sepeda roda 3 bersama si lelaki mantan preman, sedangkan wanita seperti model sedang tersenyum melihat keduanya bermain.
ah, semakin jelas bahwa tokoh-tokoh di mimpi ini sepertinya adalah sebuah keluarga kecil dan bahagia.

siapakah mereka? kenapa saya sering sekali mendapat mimpi seperti itu?

Read more...

Oh, anak jaman sekarang...

09 Juni 2013



ibu: dek. kmu klo ada budhe dateng ke rumah harus ketemu dong. masa di
kamar terus. 

anak: iya bu. (main ipad) 

ibu: jangan anteng2 teuing sama ipadnya atuh. 

anak: iya bu (masih main ipad) 

ibu: budhe tuh kan kakaknya ibu. ibu aja kalo ada budhe sun tangan. apalagi kmu ya dek.

anak: iya, iya bu. (masih aja main ipad)

ibu: dek, kmu dengerin ibu ngomong ngga sih? coba simpen dulu ipad nya.

anak naro ipad

ibu: ngerti ngga ibu bilang apa?

anak: ngerti bu

ibu: apa coba?

anak: iya kalo budhe datang adek harus sun tangan sama budhe. ga boleh diem d kamar terus. ga boleh anteng2 teuing sama ipad

ibu: pinter. ya udah sanah...

anak ambil ipad terus masuk kamar.
berapa waktu kemudian budhe datang dan si anak ga keluar kamar.
padahal semua heboh kalo budhe datang. 
waktu budhe hampir pulang, si anak masih di kamar.
ibu manggil anak.

ibu: deek... sini. ada budhe.

anak datang tergopoh2. ipad di tangan kirinya. langsung dateng ke budhe, sun tangan.

budhe: kemana aja dek?

anak: ada budhe. di kamar. (kembali lagi anteng sama ipad)

budhe: ya udah budhe pulang ya dek.

anak: iya budhe

ibu: iya mbak. ati-ati di jalan ya... (kemudian teriak ke supir budhe) ujang! ati-ati nyetirnya!

ujang: iya bu.

budhe pulang

ibu: dek. kok td budhe dateng di kamar terus? katanya udah ngerti kalo budhe dateng harus gimana?

anak: iya udah ngerti kok. td kan adek keluar kamar. sun tangan sama budhe. (asik main ipad)

ibu: tp kan setelah budhe mau pulang, ibu panggil, baru kamu keluar, dek.

anak diem. anteng main ipad.

ibu: dek. udah lah ipad nya ibu simpen dulu aja. kayanya kurang baik klo kmu pegang terus ipad nya.

ibu ambil ipad dr tangan anak.

anak: (ngedumel) ah ibu nih. padahal budhe dateng sy udah keluar kamar. sun tangan. kenapa ipad masih diambil juga sih. emang deh sy mah gada benernya. salah mulu. nasib dah jadi anak mah emang gini kali ya.

ibu denger omongan itu, tp sudah beak dengkak ngadepin anaknya. ah dasar, anak-anak jaman sekarang.

Read more...

berita duka

03 Juni 2013

dipersilahkan oleh pemilik rumah, tiga orang polisi tersebut kemudian masuk ke ruang tamu. ruang tamu kecil di rumah sederhana yang didesain dengan cinta dan kasih sayang.

bingung, lusi bertanya kepada mereka,
jadi ada apa ini sebenarnya, bapak-bapak, bu?
suaranya terbata-bata. kekhawatiran jelas terdengar dari suaranya.

ibu polwan pindah duduk ke sebelah tempat duduk lusi, lalu berbicara dengan setenang mungkin.
ibu, mohon maaf, kami akan menyampaikan kabar duka...

terkejut, tapi makin bingung, semua pikiran buruk di benaknya bercampur, apakah ayah, ibu, bang andre? tapi mana mungkin berita duka keluarganya disampaikan oleh pihak kepolisian?
sempat terlintas suaminya, tapi dia yakin suaminya baik-baik saja. entah yakin, atau merasa tidak akan sanggup menjalani hidup tanpanya.

lusi kemudian bertanya,
siapa bu, yang... meninggal?

dengan sopan ibu polwan memegang tangan lusi, perlahan dia menjawab,
pak bayu bu, suami ibu.

tiba-tiba jantungnya seakan diremas oleh tangan tak kasat mata. baru saja tadi malam mereka menyatukan cinta lagi,
tubuhnya lemas,  masih teringat jelas pagi tadi dia mencium tangan suaminya,
seisi ruangan tampak melayang, ketika membayangkan dirinya harus membesarkan anak semata wayangnya seorang diri...

lusi jatuh pingsan.

Read more...

ini inginku

27 Juli 2012


terjadilah dialog..

saya mau menikah dengannya..

tapi dia hanya tamat smp.

nikah nggak butuh ijasah.

dia juga tidak berpenghasilan tetap..

yang penting dia pekerja keras.

dia dibesarkan di keluarga broken home.

itu modal buat kami untuk tidak mengulangi kesalahan..

dia bergaul dengan penjahat!

tapi dia bisa bertahan untuk tidak ikut menjadi penjahat kan?

memangnya dia kasih apa sih ke kamu sampai kamu mati-matian membelanya?

dia kasih jiwa raganya buat saya. dia kasih cinta.

memangnya kalo sudah nikah, kamu mau makan cinta?

cinta emang nggak bisa dimakan, tapi asal saya tau bahwa orang yang saya cinta sedang bekerja keras mencari uang di jalan yang halal demi saya, apalah artinya menahan lapar.

itu namanya cinta buta.

kalo ayah cinta saya, ayah akan ngasih saya izin untuk nikah dengannya.

kemudian aroma sunyi semerbak di dalam ruangan..

Read more...

resolusi 2011

04 Januari 2011

saya belum menuliskan resolusi tahun ini ya...
baiklah, resolusi saya tahun ini, 2011, adalah:

MEMBUAT RESOLUSI 2012

Read more...

anak kucing (3)

18 Juni 2008

(sambungan)

anak kucing berjalan semakin jauh ke dalam hutan.
perjalanan ini akan semakin berat saja, tampaknya.
pikir anak kucing.
dan benar saja, ketika malam menjelang, dia belum menemukan dimanakah serigala berada. tidak ada tanda-tanda keberadaannya. dia hanya menunggu serigala melolong pada malam hari. lalu ia akan mendatangi sumber suara, dan pastinya di sanalah serigala berada.

beberapa langkah-kecil-anak-kucing kemudian, terdengarlah suara lolongan serigala. luar biasa senangnya anak kucing, ia kemudian segera mendatangi sumber suara tersebut. tidak beberapa lama berselang, terdengar lagi suara lolongan serigala dari tempat yang sangat jauh berlawanan dengan suara lolongan pertama. anak kucing kebingungan. pikirnya,
cepat sekali larinya serigala ini.
kemudian ia merubah orientasi arahnya menuju sumber suara lolongan kedua. baru dua langkah, suara lolongan ketiga terdengar dari belakangnya. ia semakin bingung, lalu ia terdiam sebentar. setelah berpikir, ditemani suara-suara lolongan serigala dari sekelilingnya, ia mengambil kesimpulan bahwa itu adalah suara beberapa serigala yang berbeda. akhirnya ia memutuskan untuk memilih satu lolongan, kemudian segera berlari ke arahnya dan tidak menghiraukan lolongan-lolongan berikutnya.

sudah tak terhitung langkah anak kucing sejak pertamakali ia memutuskan untuk berlari menuju sumber suara satu lolongan serigala. nafasnya hampir saja habis. saat itu pula ia melihat sesosok serigala tak seberapa jauh di depannya. ia berhenti berlari, mengatur nafasnya sebentar, kemudian menghirup udara dalam-dalam, dan dikeluarkan lagi dengan satu hembusan cepat. ia berjalan mendatangi serigala tersebut, kemudian setelah cukup dekat dengan serigala itu, dengan sopan bertanyalah ia,
maaf, hai serigala... bolehkah saya bertanya?

dengan angkuh serigala melihat anak kucing dari atas kepala hingga ujung ekornya. serigala lalu balas bertanya,
siapa kau? kau tidak terlihat seperti penghuni asli hutan ini

anak kucing cukup lega mendengar jawaban serigala, karena sebelum bertanya pun sebenarnya ia takut melihat raut wajah serigala. anak kucing menjawab pertanyaan serigala,
benar, saya memang bukan penghuni asli hutan ini, kenapa bisa menebak hal itu, hai serigala?

serigala tidak langsung menjawab, ia malah melolong. sekali lagi ia melihat anak kucing dengan angkuh. dengan perlahan dan nada suara yang menyeramkan, ia menjawab pendek,
penghuni asli hutan ini takkan mungkin datang dan menyapaku, mereka bicara padaku HANYA bila aku yang mengajak bicara.

(bersambung)

Read more...

anak kucing (2)

12 Juni 2008

(sambungan)

ketika menemukan pohon tinggi yang diisyaratkan ulat, si anak kucing memutari pohon itu sekali, lalu berusaha memanjatnya... dan gagal. lalu ia menengadah tinggi sekali, nyaris mendirikan tubuhnya. dan ia melihat tupai yang nampak sedikit terengah dengan kenari di tangannya. setengah teriak, ia kembali melontarkan pertanyaan yang serupa pada tupai,
hai tupai, tahukah kau apa itu kasih sayang?

pun serupa semut pekerja dan ulat, tupai balik bertanya,
kenapa harus aku yang jawab pertanyaanmu itu?

anak kucing menjawab,
kata ulat, pergaulanmu jauh lebih luas dari padanya. dan menurutnya, mungkin pikiranmu terbuka dari padanya dan kau sanggup menjawab pertanyaanku.

lalu tupai berkata,
aku memang sering bepergian dari satu pohon ke pohon yang lainnya, melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lain, dan melewati ranting-ranting. hampir semua pohon di seluruh penjuru hutan ini telah kusentuh, memang...
sembari mencoba menaruh kenari yang dipegangnya, tupai membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. kenari dijaganya dengan tangan kanannya. kemudian ia melanjutkan,
tapi sebenarnya pendapat ulat itu salah. aku pergi kesana kemari bukan untuk bergaul, melainkan hanya untuk mencari kenari dari seluruh penjuru hutan ini untuk kemudian aku kumpulkan di pohonku.

merasa belum mendapatkan jawaban yang diinginkan, anak kucing kembali bertanya,
lalu, bisakah kau jawab pertanyaaku tadi?

dan jawaban tupai tidak jauh beda dengan jawaban semut dan ulat,
maaf anak kucing, aku terlalu sibuk. aku terlalu sibuk mengumpulkan kenari sehingga tak bisa menjawab pertanyaanmu. sekali lagi... maaf.

anak kucing, yang masih menengadah menatap tupai, bertanya,
lalu pada siapa aku harus bertanya?

sambil menyeka wajahnya yang sedikit berkeringat, berkatanya tupai itu,
coba kau tanya pada serigala!
kini sembari mengipaskan tangan kirinya ke arah wajahnya dan sesekali meniup dadanya sendiri, tupai meneruskan,
menurutku, hidup serigala tidak sesibuk hidupku. buktinya dia sering melolong, terutama di malam hari, di saat hampir semua binatang sedang terlelap. cobalah kau tanyakan padanya dulu.

berpikir anak kucing,
katanya sibuk mencari kenari, tapi bukankah sedari tadi dia hanya memainkan sebuah kenari yang telah ia dapatkan? dan dia hanya sibuk beristirahat, mengipasi dan meniupi badannya sendiri. dia tak tampak sesibuk apa yang dikatakannya tadi...
tapi dengan sopan ia berujar,
baiklah, akan saya coba tanya pada serigala. terimakasih, hai tupai...

dan sebelum mereka benar-benar berpisah, setelah keduanya mengucapkan salam perpisahan, ulat berkata pelan,
hati-hati...

(bersambung)

Read more...

anak kucing (1)

02 Juni 2008

diceritakan... seekor anak kucing peliharaan, dipeliara sejak ia masih amat kecil. si anak kucing tak ingat siapa orangtua biologisnya... seperti apa raut wajahnya, suaranya, juga bagaimana warna bulunya. yang ia kenal hanya majikannya. mereka adalah manusia-manusia yang setiap hari dengan rajin memberi susu, biskuit, serta nasi campur. yang setiap mereka pulang, entah dari mana, selalu memanggilnya dengan suara manusia yang berbunyi “meng” atau “pus”lalu mengelus-elus leher dan belakang telinganya...

satu hal yang ia ingat dari orangtuanya adalah “kasih sayang”. dan seiring berjalannya waktu, rasa keingintahuan si anak kucing semakin besar. suatu saat ia memutuskan untuk meninggalkan rumah majikannya
untuk mencari tahu apakah sebenarnya “kasih sayang” itu. di belakang rumah majikannya ada halaman, di seberang pagarnya adalah hutan. ia lalu memanjat kayu pagar halaman belakang, pergi untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya. dalam hati, ia ingin masuk ke hutan... terus ke dalam belantara, atau hingga terjawab rasa penasarannya.

dalam perjalanannya, yang pertama dilihat si anak kucing adalah semut dalam iring-iringan. ia kemudian menghampiri iring-iringan tersebut, lalu bertanya pada salah seekor semut,
hai semut... tahukah kau apa itu kasih sayang?

semut tersebut menjauh dari iring-iringan dan balik bertanya,
mengapa kau menanyakan hal itu padaku?

si anak kucing berkata,
aku tak tahu harus bertanya kepada siapa, semut...

semut berkata,
aku hanya semut pekerja, aku tidak mampu berpikir. lihatlah ukuran badanku yang kecil ini, artinya otakku sangat kecil hingga takkan sanggup berpikir, apalagi untuk menjawab pertanyaanmu itu. coba kau tanyakan padanya...
semut menunjuk seekor ulat di pohon, lalu meneruskan,
badannya lebih besar dari badanku, tentu otaknya pun lebih besar dari otakku. mungkin dia sanggup berpikir untuk menjawab pertanyaanmu.

si anak kucing mengangguk-angguk seolah setuju dengan si semut, tapi sebenarnya ia bergumam perlahan,
hampir berbisik,
mengaku berotak kecil, tapi cerewet juga semut ini...

lalu ia berkata pada semut,
baiklah... aku akan tanyakan padanya. terima kasih, hai semut.

si anak kucing meninggalkan semut pekerja, lalu mendekati pohon tempat ulat berada. ia kemudian melontarkan pertanyaan serupa pada ulat,
hai ulat, tahukah kau apa itu kasih sayang?

pun serupa semut pekerja, ulat balik bertanya,
mengapa kau bertanya padaku?

anak kucing menjawab,
kata semut, otakmu lebih besar dari pada otaknya. dan menurutnya, mungkin kau sanggup berpikir untuk menjawab pertanyaanku.

ulat kemudian berkata,
maaf kucing, memang benar otakku lebih besar dari pada otak semut, tapi aku tidak banyak bergaul.

sementara dialog itu berlangsung, beberapa ekor kupu-kupu terbang menghampiri mereka berdua... ulat melanjutkan,
kami, para ulat, hanya berdiam diri di bawah daun, berlindung dari panas dan hujan, makan daun itu sendiri, menunggu hingga waktunya tiba... berubah menjadi seperti mereka.
ulat menunjuk kupu-kupu.

ulat terdiam, lalu anak kucing bertanya lagi,
lalu pada siapa aku harus bertanya?

ulat tak langsung menjawab pertanyaan si anak kucing, tapi ia berpikir sejenak, kemudian menjawab,
hmm... coba kau tanyakan pada tupai, dia hidup di pohon-pohon tinggi, melompat kesana-kemari, dari pohon satu ke pohon yang lainnya, kadang masuk jauh ke dalam hutan, kemudian kembali lagi ke pohonnya. pergaulannya jauh lebih luas dari padaku, mungkin pikirannya juga lebih terbuka dari padaku dan dia sanggup menjawab pertanyaanmu.

seolah mencari dukungan, ulat menerawang, lalu menengadahkan kepala dan melihat kupu-kupu yang ada di sekelilingnya. ulat-ulat lainnya, mungkin puluhan jumlahnya, juga beberapa kupu-kupu bergumam menyetujui. si anak kucing baru menyadari bahwa sebenarnya puluhan ulat yang bergumam itu sedari tadi ikut mendengarkan dialognya, sama seperti beberapa kupu-kupu yang beterbangan di sekitarnya. melihat kawanan ulat dan kupu-kupu itu, si anak kucing hanya mengangguk-angguk sambil berpikir,
mengaku tidak banyak bergaul, tapi kawannya sebegitu banyak...

sebelum meninggalkan kawanan itu dan melanjutkan perjalanan untuk mencari tupai, si anak kucing berterimakasih pada ulat dan seluruh kawanan tersebut.

(bersambung...)

Read more...

keluarga sepeda

15 April 2008

alkisah..
di suatu perkampungan sepeda nun di pelosok timur kota bandung
terbilanglah satu keluarga sepeda yang baru memiliki bayi
kepala keluarganya adalah sepeda yang tegas namun bijaksana
ibu rumah tangganya adalah sepeda yang lembut dan sebuah motivator andal
bayinya selalu berada dalam naungan cinta kedua orangtuanya,
disinari wibawa ayahanda sang kepala keluarga,
dan diselimuti dukungan ibunda sang ibu rumah tangga

si bayi tumbuh menjadi sepeda cilik yang periang
suatu saat si sepeda kecil dengan ceria bertanya pada ayahnya,
"yanda.. aku ingin main ke lembang seperti yanda.."
sang ayah dengan tegas menjawab,
"nak.. kamu masih terlalu kecil,
kamu tidak akan kuat main ke lembang"
si kecil merenggut, dan sang bunda dengan lembut mengimbangi,
"sayang.. yanda benar, tapi bukan berarti kamu tidak akan pernah bisa ke lembang,
kamu hanya perlu menunggu framemu tumbuh sebesar yanda dan bunda, sayang..."
si kecil kembali ceria dan berpikir,
"berarti... nanti ketika frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
aku akan bisa main ke lembang."

sepuluh tahun berselang, si kecil yang ceria telah tumbuh menjadi remaja yang lincah
saat itu ayah bundanya tidak pernah menyangka anak remajanya masih mengingat dengan jelas
percakapan sepuluh tahun silam, hingga si remaja kembali bertanya,
"yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda..
aku ingin pergi ke lembang seperti yanda,
aku ingin mencengkram stangku ke sana.."
sang ayah dengan tegas dan berwibawa menjawab,
"nak.. kamu memang sudah besar,
namun gear depan dan belakangmu masing-masing hanya satu,
kamu tidak akan kuat main ke lembang"
si remaja kembali merenggut serupa tingkahnya sepuluh tahun silam,
dan sang bunda pun kembali mengimbangi ucapan suaminya.
dengan penuh dukungan ia berkata,
"sayang.. yanda benar, tapi bukan berarti kamu tidak akan pernah bisa ke lembang,
kamu hanya perlu melatih gear-gearmu agar suatu saat nanti,
gearmu akan sebanyak yanda, sayang.."
si anak kembali perpikir,
"berarti.. aku sekarang harus rajin berlatih,
agar nanti ketika gear-gearku telah sebanyak yanda,
aku akan bisa pergi ke lembang"

lima tahun setelahnya, si remaja yang lincah tumbuh menjadi sepeda muda yang penuh percaya diri
ayah bundanya tahu, akan tiba waktu anaknya menanyakan hal yang sama seperti lima dan lima belas tahun yang lalu
si muda bertanya lagi,
"yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda..
aku ingin main ke lembang, seperti yanda,
aku ingin mencengkram stangku dan mengayuh pedalku ke sana.."
sang ayah menjawab.. sedapat mungkin jawabannya bisa diterima anaknya
"nak.. kamu memang sudah besar,
gearmu sudah banyak,
namun shock breakermu masih terlalu rapuh,
kamu tidak akan kuat main ke lembang"
si muda mulai tak tahan dengan semua larangan ayahnya
dan sebelum anak semata wayangnya marah, sang bunda sekali lagi mencoba memberi pengertian.
sembari berusaha menenangkan, beliau berujar,
"sayang.. yanda benar,tapi bukan berarti kamu tidak akan pernah bisa ke lembang,
kamu hanya perlu melatih shock breakermu agar suatu saat nanti shock breakermu akan sekuat yanda, sayang.."
kemarahan si muda tertahan berkat sang bunda, namun ia sudah terlanjur kecewa.
ia kemudian berpikir,
"oke, sekarang aku harus memperkuat shock breakerku.. tapi nanti apa lagi?"

tiga tahun berselang..
si muda yang percaya diri tumbuh menjadi sepeda dewasa
sifat periang dan ceria serta percaya dirinya tersembunyi
karena kekecewaan yang pernah dirasakan, kini ia harus berpikir berkali-kali sebelum akhirnya kembali mendatangi ayahnya, kemudian menanyakan hal yang sama,
"yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda,
shockbreakerku pun sudah sekuat yanda..
aku ingin main ke lembang, seperti yanda,
aku ingin mencengkram stangku, mengayuh pedalku, dan menjejakkan banku hingga ke sana.."
tak disangka, kini ayahnya mengizinkannya pergi ke lembang.
beliau berkata,
"nak.. memang sekarang kamu sudah siap untuk pergi ke lembang"
dan sambil tersenyum ia berkata,
"supaya lebih nyaman, ada baiknya kamu gunakan grip dan sadel yanda. atau mungkin lebih baik lagi bila kamu minta uang pada bunda untuk membeli grip dan sadel baru saja"
luar biasa girang si anak sepeda.
ia langsung berlari mendatangi bundanya. semangatnya berapi-api sambil setengah menagih,
"bunda.. bunda! yanda bilang, aku sudah boleh pergi ke lembang! lalu katanya aku boleh beli grip dan sadel baru, supaya perjalananku nanti lebih nyaman!"
bundanya tak bisa menahan haru melihat anaknya yang gembira.
beliau langsung merogoh dompetnya, kemudian sebelum memberikan uangnya ke si anak, beliau berkata,
"benar kan, apa bunda bilang, suatu saat yanda pasti memperbolehkan kamu pergi ke lembang"
setelah menerima uang dari bundanya, si anak langsung berterimakasih kemudian langsung pergi untuk membeli grip dan sadel baru.

di suatu pagi, si anak telah siap pergi ke lembang, dengan semangat ia pamit pada ayah dan bundanya, lalu pergi sambil mencengkram stangnya, mengayuh pedalnya untuk menjejakkan bannya ke lembang.
beberapa jam kemudian si anak pulang dengan wajah lesu, ia mendatangi ayahnya.
lelah tampak dari nada bicaranya,
”yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda,
shockbreakerku pun sudah sekuat yanda..
tapi tadi aku tidak bisa mencapai lembang.
baru tiga perempat perjalanan, ternyata aku tidak sekuat yang aku bayangkan sebelumnya"
lalu ayahnya dengan bijaksana berujar,
"yanda juga dulu tidak langsung bisa sampai ke lembang, nak.
malahan perjalanan yang pertama hanya separuh jalan ke lembang"
bundanya lalu menambahkan,
"sayang.. mungkin kamu bisa coba lagi pekan depan"
si anak masih tak yakin dengan ucapan ayah bundanya, namun ia bertekad untuk mencoba lagi pekan depan

sepekan setelahnya, kejadian serupa berulang lagi.
si anak tak berhasil menjejakkan bannya ke lembang,
ia pulang dan kembali ayah bundanya menyarankan untuk tidak menyerah dan mencoba lagi.
hingga perjalanan kelima, sebulan telah berlalu sejak sang ayah mengizinkan si anak pergi ke lembang..
si anak berkeluh pada ayahnya,
"yanda, sepertinya aku memang tidak cocok untuk menjadi seperti yanda.
padahal frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda,
shockbreakerku pun sudah sekuat yanda..
tapi kenapa aku tak bisa mencapai lembang seperti yanda?"
ayah bundanya pun tak habis pikir, tapi kemudian mereka berpikir,
mengingat kembali ketika si anak masih kecil, beranjak remaja, hingga kini telah dewasa.
ayahnya berkata pada anaknya,
"nak, sepertinya sejak dulu yanda salah menilai kamu..
dulu kamu adalah sepeda cilik yang periang,
sepeda remaja yang lincah,
sepeda muda yang percaya diri"
si anak masih belum memahami maksud ayahnya,
lalu ayahnya melanjutkan perkataannya dengan suatu permintaan maaf,
"nak, mungkin kamu lebih cocok menjadi BMX ketimbang MTB"
sang bunda hanya bisa mengusap anaknya dan beliau pun sangat mengerti kekecewaan yang dirasakan anak kesayangannya..

ketika si anak telah tumbuh menjadi MTB dengan frame besar, shifter untuk mengganti gear-gearnya, shock breaker yang kuat..
tidak ada yang bisa dilakukan untuk menciutkan frame menjadi seukuran BMX. begitu pula dengan shifter dan gear serta shock breaker tak bisa diganti dengan rotor BMX..

bila sang ayah hanya bisa meminta maaf
lalu si anak bisa apa?

Read more...

kotak berteriak

rating-rating ratinglah

cari-cari carilah

amazone produck previews

  © Free Blogger Templates Nightingale by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP