keluarga sepeda

15 April 2008

alkisah..
di suatu perkampungan sepeda nun di pelosok timur kota bandung
terbilanglah satu keluarga sepeda yang baru memiliki bayi
kepala keluarganya adalah sepeda yang tegas namun bijaksana
ibu rumah tangganya adalah sepeda yang lembut dan sebuah motivator andal
bayinya selalu berada dalam naungan cinta kedua orangtuanya,
disinari wibawa ayahanda sang kepala keluarga,
dan diselimuti dukungan ibunda sang ibu rumah tangga

si bayi tumbuh menjadi sepeda cilik yang periang
suatu saat si sepeda kecil dengan ceria bertanya pada ayahnya,
"yanda.. aku ingin main ke lembang seperti yanda.."
sang ayah dengan tegas menjawab,
"nak.. kamu masih terlalu kecil,
kamu tidak akan kuat main ke lembang"
si kecil merenggut, dan sang bunda dengan lembut mengimbangi,
"sayang.. yanda benar, tapi bukan berarti kamu tidak akan pernah bisa ke lembang,
kamu hanya perlu menunggu framemu tumbuh sebesar yanda dan bunda, sayang..."
si kecil kembali ceria dan berpikir,
"berarti... nanti ketika frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
aku akan bisa main ke lembang."

sepuluh tahun berselang, si kecil yang ceria telah tumbuh menjadi remaja yang lincah
saat itu ayah bundanya tidak pernah menyangka anak remajanya masih mengingat dengan jelas
percakapan sepuluh tahun silam, hingga si remaja kembali bertanya,
"yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda..
aku ingin pergi ke lembang seperti yanda,
aku ingin mencengkram stangku ke sana.."
sang ayah dengan tegas dan berwibawa menjawab,
"nak.. kamu memang sudah besar,
namun gear depan dan belakangmu masing-masing hanya satu,
kamu tidak akan kuat main ke lembang"
si remaja kembali merenggut serupa tingkahnya sepuluh tahun silam,
dan sang bunda pun kembali mengimbangi ucapan suaminya.
dengan penuh dukungan ia berkata,
"sayang.. yanda benar, tapi bukan berarti kamu tidak akan pernah bisa ke lembang,
kamu hanya perlu melatih gear-gearmu agar suatu saat nanti,
gearmu akan sebanyak yanda, sayang.."
si anak kembali perpikir,
"berarti.. aku sekarang harus rajin berlatih,
agar nanti ketika gear-gearku telah sebanyak yanda,
aku akan bisa pergi ke lembang"

lima tahun setelahnya, si remaja yang lincah tumbuh menjadi sepeda muda yang penuh percaya diri
ayah bundanya tahu, akan tiba waktu anaknya menanyakan hal yang sama seperti lima dan lima belas tahun yang lalu
si muda bertanya lagi,
"yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda..
aku ingin main ke lembang, seperti yanda,
aku ingin mencengkram stangku dan mengayuh pedalku ke sana.."
sang ayah menjawab.. sedapat mungkin jawabannya bisa diterima anaknya
"nak.. kamu memang sudah besar,
gearmu sudah banyak,
namun shock breakermu masih terlalu rapuh,
kamu tidak akan kuat main ke lembang"
si muda mulai tak tahan dengan semua larangan ayahnya
dan sebelum anak semata wayangnya marah, sang bunda sekali lagi mencoba memberi pengertian.
sembari berusaha menenangkan, beliau berujar,
"sayang.. yanda benar,tapi bukan berarti kamu tidak akan pernah bisa ke lembang,
kamu hanya perlu melatih shock breakermu agar suatu saat nanti shock breakermu akan sekuat yanda, sayang.."
kemarahan si muda tertahan berkat sang bunda, namun ia sudah terlanjur kecewa.
ia kemudian berpikir,
"oke, sekarang aku harus memperkuat shock breakerku.. tapi nanti apa lagi?"

tiga tahun berselang..
si muda yang percaya diri tumbuh menjadi sepeda dewasa
sifat periang dan ceria serta percaya dirinya tersembunyi
karena kekecewaan yang pernah dirasakan, kini ia harus berpikir berkali-kali sebelum akhirnya kembali mendatangi ayahnya, kemudian menanyakan hal yang sama,
"yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda,
shockbreakerku pun sudah sekuat yanda..
aku ingin main ke lembang, seperti yanda,
aku ingin mencengkram stangku, mengayuh pedalku, dan menjejakkan banku hingga ke sana.."
tak disangka, kini ayahnya mengizinkannya pergi ke lembang.
beliau berkata,
"nak.. memang sekarang kamu sudah siap untuk pergi ke lembang"
dan sambil tersenyum ia berkata,
"supaya lebih nyaman, ada baiknya kamu gunakan grip dan sadel yanda. atau mungkin lebih baik lagi bila kamu minta uang pada bunda untuk membeli grip dan sadel baru saja"
luar biasa girang si anak sepeda.
ia langsung berlari mendatangi bundanya. semangatnya berapi-api sambil setengah menagih,
"bunda.. bunda! yanda bilang, aku sudah boleh pergi ke lembang! lalu katanya aku boleh beli grip dan sadel baru, supaya perjalananku nanti lebih nyaman!"
bundanya tak bisa menahan haru melihat anaknya yang gembira.
beliau langsung merogoh dompetnya, kemudian sebelum memberikan uangnya ke si anak, beliau berkata,
"benar kan, apa bunda bilang, suatu saat yanda pasti memperbolehkan kamu pergi ke lembang"
setelah menerima uang dari bundanya, si anak langsung berterimakasih kemudian langsung pergi untuk membeli grip dan sadel baru.

di suatu pagi, si anak telah siap pergi ke lembang, dengan semangat ia pamit pada ayah dan bundanya, lalu pergi sambil mencengkram stangnya, mengayuh pedalnya untuk menjejakkan bannya ke lembang.
beberapa jam kemudian si anak pulang dengan wajah lesu, ia mendatangi ayahnya.
lelah tampak dari nada bicaranya,
”yanda.. sekarang frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda,
shockbreakerku pun sudah sekuat yanda..
tapi tadi aku tidak bisa mencapai lembang.
baru tiga perempat perjalanan, ternyata aku tidak sekuat yang aku bayangkan sebelumnya"
lalu ayahnya dengan bijaksana berujar,
"yanda juga dulu tidak langsung bisa sampai ke lembang, nak.
malahan perjalanan yang pertama hanya separuh jalan ke lembang"
bundanya lalu menambahkan,
"sayang.. mungkin kamu bisa coba lagi pekan depan"
si anak masih tak yakin dengan ucapan ayah bundanya, namun ia bertekad untuk mencoba lagi pekan depan

sepekan setelahnya, kejadian serupa berulang lagi.
si anak tak berhasil menjejakkan bannya ke lembang,
ia pulang dan kembali ayah bundanya menyarankan untuk tidak menyerah dan mencoba lagi.
hingga perjalanan kelima, sebulan telah berlalu sejak sang ayah mengizinkan si anak pergi ke lembang..
si anak berkeluh pada ayahnya,
"yanda, sepertinya aku memang tidak cocok untuk menjadi seperti yanda.
padahal frameku sudah sebesar yanda dan bunda,
gearku sudah sebanyak yanda,
shockbreakerku pun sudah sekuat yanda..
tapi kenapa aku tak bisa mencapai lembang seperti yanda?"
ayah bundanya pun tak habis pikir, tapi kemudian mereka berpikir,
mengingat kembali ketika si anak masih kecil, beranjak remaja, hingga kini telah dewasa.
ayahnya berkata pada anaknya,
"nak, sepertinya sejak dulu yanda salah menilai kamu..
dulu kamu adalah sepeda cilik yang periang,
sepeda remaja yang lincah,
sepeda muda yang percaya diri"
si anak masih belum memahami maksud ayahnya,
lalu ayahnya melanjutkan perkataannya dengan suatu permintaan maaf,
"nak, mungkin kamu lebih cocok menjadi BMX ketimbang MTB"
sang bunda hanya bisa mengusap anaknya dan beliau pun sangat mengerti kekecewaan yang dirasakan anak kesayangannya..

ketika si anak telah tumbuh menjadi MTB dengan frame besar, shifter untuk mengganti gear-gearnya, shock breaker yang kuat..
tidak ada yang bisa dilakukan untuk menciutkan frame menjadi seukuran BMX. begitu pula dengan shifter dan gear serta shock breaker tak bisa diganti dengan rotor BMX..

bila sang ayah hanya bisa meminta maaf
lalu si anak bisa apa?

3 komen:

Astrid 15 April 2008 pukul 19.28  

hueee...sedih:(

salah didik..ya? itu kan temanya?
tapi mendidik itu kan memang sulit..

seringkali 'orangtua' hanya mendidik sesuai ia dididik...sesuai apa yang ia alami..sementara si anak adalah makhluk unik,,
dan bukan salah juga kan larangan2 mereka semasa si anak kecil...kan demi kebaikan si anak:P

haduh...sulitnya menjadi orangtua..
sulitnya menjadi seorang anak..

hmm.....

Fanny Rosdiawan 17 April 2008 pukul 14.23  

Kang Mugni Semangat ! ^_^

mUx 18 April 2008 pukul 01.24  

hei.. itu bukan curhat yaa..
duh, papah +mamahku ga salah didik ko.. itu cuma ceritaa!!!
+penulisendiri+

kotak berteriak

rating-rating ratinglah

cari-cari carilah

amazone produck previews

  © Free Blogger Templates Nightingale by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP